Christian Atmadjaja, Director Virtus Technology Indonesia saat sesi pembukaan Virtus Showcase.

Edge Computing dan Distributed Enterprise Gali Potensi Besar untuk Berbagai Industri

Author:

Edge computing menjadi salah satu teknologi baru yang semakin banyak diadopsi di era hybrid, khususnya selama beberapa tahun terakhir terlebih di era pandemi. Pasalnya,  teknologi ini diprediksi dapat membantu bisnis menjangkau pasar baru dan bisa selalu hadir untuk para pelanggan mereka, di mana pun mereka berada. 

Kehadiran edge computing juga serta merta mendorong konsep distributed enterprise atau perusahaan terdistribusi, sehingga mereka tak akan lagi bergantung pada data center yang terpusat. Sebaliknya, bisnis akan memproses dan menganalisis data di tempat data tersebut dihasilkan. Di sinilah model distributed enterprise membutuhkan dukungan teknologi edge yang dinilai mampu menghadirkan fleksibilitas lebih baik bagi bisnis untuk menerapkan remote working, akses layanan terdistribusi, serta konsumsi media yang tak terbatas. 

Edge computing dan distributed enterprise menjadi topik utama dalam Virtus Showcase 2022 yang diselenggarakan di Hotel Mulia, Jakarta pada Kamis 15 September 2022 lalu. Bertajuk “Edge of Distributed Enterprise: Embracing the Next Digital Wave“, gelaran tahunan yang diadakan subsidiari CTI Group ini mengeksplorasi seluk beluk edge computing dan distributed enterprise sebagai tren IT, serta mengulas tantangan apa saja yang dibutuhkan bisnis dalam mewujudkannya. Selengkapnya, baca artikel ini untuk menyimak coverage tentang Virtus Showcase 2022. 

Mengapa Edge Computing Semakin Dibutuhkan? 

CEO EDGE DC Stephanus Oscar di Virtus Showcase 2022.

Berdasarkan penelitian terbaru Gartner, sekarang ada sekitar 10 persen data yang diproduksi bisnis serta diproses di luar data center dan cloud tradisional yang terpusat. Angka tersebut, diproyeksi akan terus meningkat hingga 75 persen hingga 2025.  

Adapun peningkatan data dari sisi volume dan kecepatan karena dipicu penerapan perangkat IoT untuk bisnis, konsumen, serta smart city. Hal inilah yang akan menjadikan pengelolaan data berbasis data center dan cloud terpusat tak lagi efisien. 

Dalam sesi pembukaan Virtus Showcase 2022, Christian Atmadjaja selaku Director Virtus Technology Indonesia, mengungkapkan bahwa perangkat pintar berbasis IoT akan semakin banyak diterapkan bisnis dalam mempercepat inovasi mereka. Namun konsekuensinya, data yang diproduksi dari sisi volume dan kecepatan akan menjadi tantangan bagi bandwidth dan jaringan internet. 

Christian mengatakan, akan semakin banyak bisnis yang membutuhkan adopsi edge computing dan konsep distributed enterprise, karena edge computing adalah sistem arsitektur komputasi modern yang terdistribusi, membawa komputasi dan data storage lebih dekat ke sumber data, sehingga otomatis menghemat bandwidth. 

“Di sinilah edge computing dan distributed enterprise akan menjadi kunci penting dalam membuka potensi yang penuh untuk berbagai industri.  Virtus Showcase 2022 juga akan membuka pintu baru bagi para pelaku industri dan penyedia solusi IT seperti edge computing, end-user computing, SD-WAN, Secure Access Service Edge (SASE), zero-trust security, 5G, IoT, AI dan Machine Learning serta cloud native, untuk bisa bekerja sama meraih peluang dan mengoptimalkan implementasi edge bagi bisnis mereka,” ujar Christian. 

Baca Juga: Seperti Apa Strategi Efektif Kelola Cloud Management yang Rumit? 

Desentralisasi yang Terjadi di Dunia IT 

Menurut CEO EDGE DC Stephanus Oscar, implementasi edge computing di Indonesia terbilang masih dalam tahap dini, karena bisnis masih mencari tahu lebih dalam terkait use case yang ingin mereka gunakan. Namun, kata Oscar, implementasi edge computing diikutsertakan dengan desentralisasi tengah terjadi di dunia IT. Desentralisasi yang dimaksud, adalah perpindahan dari hyperscale data center ke edge computing, di mana akan semakin banyak perpindahan data bisnis yang layanannya membutuhkan latensi sensitif serta ingin lebih dekat dengan penggunanya.  

“Karakteristik edge computing ini membuat bisnis untuk ingin lebih dekat dengan penggunanya. Jika mereka ingin lebih dekat, pasti pemrosesan data juga otomatis lebih cepat,” kata Oscar. 

Penerapan edge computing yang optimal, lanjut Oscar, pasti akan menciptakan layanan dengan latensi positif dan berkinerja baik. Ambil contoh TikTok, yang juga bisa melakukan live shopping di dalam aplikasinya. 

“Bayangkan data yang diproses dalam sebegitu banyaknya aktivitas, pasti latensi akan menjadi sangat tinggi. Namun dengan edge computing, latensi otomatis akan menjadi rendah dan tidak mengganggu performa. Teknologi seperti ini dibutuhkan next gen application yang sejatinya memerlukan latensi rendah,” tukasnya. 

Apa Saja Tantangan Edge Computing di Indonesia? 

Lebih lanjut, Oscar juga mengungkap tantangan edge computing yang dialami sebagian bisnis di Indonesia. Pertama, menurutnya keandalan infrastruktur masih menjadi isu utama, di mana bisnis masih terkendala dengan keandalan jaringan dan edge data center.  

Kedua adalah masalah keamanan siber, di mana masih banyak bisnis yang memikirkan keamanan data mereka ketika mengadopsi edge computing. Namun, hal ini tentu bisa diatasi dengan solusi keamanan IT yang efektif seperti SASE dan zero trust security. 

“Dari segi keamanan, pelanggan harus memastikan implementasi cybersecurity seperti SASE untuk menjaga hubungan yang aman antara aplikasi dan endpoint-nya. Sementara, dari infrastruktur, kesiapan edge data center yang andal dan juga infrastruktur jaringan yang baik menjadi faktor penting untuk memastikan uptime dan business continuity. Sebab, latency is the new downtime, dan saya percaya semua data center player sudah mengadopsi prinsip ini. Karena sudah banyak bisnis dengan next gen application yang butuh latensi rendah,” pungkasnya. 

Baca Juga: CTI IT Infrastructure Summit 2022 Angkat Tema Making the Connected Enterprise a Reality 

Sekilas Virtus Showcase 2022 

Virtus Showcase 2022

Virtus Showcase 2022 menghadirkan beberapa pembicara ahli, mulai dari Stephanus Oscar, selaku CEO EDGE DC Indonesia sebagai keynote speaker yang membagikan manfaat serta inovasi terkait teknologi edge computing, Erwin Yusran, Country Data Center Sales Lead, Indonesia, Dell Technologies, serta Chun Wui sebagai Senior Manager Solution Engineering VMware.   

Pada sesi panel diskusi interaktif, turut hadir dari pelaku industri seperti Amirul Wicaksono selaku Direktur IT dan Operasional Bank DKI, dan Andries Indrajaya sebagai Vice President of Technology PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang membahas lebih dalam pengalaman terkait implementasi teknologi edge computing dan tantangan serta peluang distributed enterprise di Indonesia. 

Virtus Showcase 2022 juga didukung oleh brand perusahaan IT terkemuka di dunia seperti VMware, Dell Technologies, Huawei, Trend Micro, Red Hat, Arista, Palo Alto, dan Yugabyte. 

 

Share On :

Berita Terbaru

Terima kasih telah berlangganan newsletter kami

Anda akan menerima informasi terbaru dari perusahaan kami