Lihat Katalog Lengkap Solusi Digital dari CTI Group

Cara memilih strategi AI Agent buy vs build vs partner CTI Group

Bagaimana Cara Memilih AI Agent yang Tepat untuk Bisnis?

Author:

AI agent semakin cepat masuk ke upaya transformasi digital perusahaan, tetapi adopsinya tidak selalu langsung memengaruhi nilai bisnis. Survei McKinsey 2025 menunjukkan bahwa 62 persen responden mengatakan organisasinya setidaknya sedang bereksperimen dengan AI agents. Namun, sebagian besar organisasi masih berada pada tahap eksperimen atau pilot dan belum melakukan scaling secara luas. 

Dengan kata lain, tantangan utama terkait AI agent ternyata bukan soal memilih teknologi AI, tetapi menentukan use case, model implementasi, dan strategi yang tepat sejak awal. Strategi tersebut juga harus mempertimbangkan kesiapan organisasi. 

World Economic Forum menekankan bahwa AI agents lebih cocok digunakan pada proses yang kompleks, dinamis, membutuhkan pengambilan keputusan dan tingkat otonomi tertentu, sementara investasi, kesiapan data, integrasi sistem, kemampuan teknis, serta governance perlu dievaluasi sebelum implementasi. Deloitte juga melaporkan pada 2026 bahwa hanya 21 persen enterprise yang disurvei memiliki model governance agentic AI yang matang. Ini menunjukkan bahwa memilih AI agent tanpa strategi dan guardrails yang jelas dapat menciptakan risiko baru. 

 

Apa itu Strategi AI Agent?

Strategi AI agent adalah pendekatan organisasi dalam merencanakan, mengembangkan, mengadopsi, atau mengimplementasikan AI agents untuk mencapai tujuan bisnis tertentu. Strategi ini menjawab pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar, “AI agent apa yang harus digunakan?” 

Sebelum menentukan strategi AI agents, organisasi juga perlu menentukan masalah bisnis apa yang ingin diselesaikan, proses mana yang benar-benar membutuhkan AI agent, seberapa besar tingkat otonomi yang dibutuhkan, data dan sistem apa yang harus dapat diakses, siapa yang bertanggung jawab terhadap keputusan agent, bagaimana performa dan risiko akan dimonitor, dan apakah solusi sebaiknya dibangun sendiri, dibeli, atau dikembangkan bersama partner. 

AI agent yang tepat harus sesuai kebutuhan bisnis, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Beberapa faktor utama yang memengaruhi AI agent strategy antara lain. 

Business Goals

AI agent harus memiliki tujuan yang jelas dan terukur. Misalnya untuk mempercepat customer service resolution, mengurangi pekerjaan administratif, membantu sales melakukan riset pasar, mengotomatisasi IT service management, meningkatkan produktivitas knowledge workers, hingga mempercepat analisis data dan pengambilan keputusan. 

Tanpa business goal yang jelas, bisa saja organisasi membangun AI agent yang menarik secara teknologi namun berisiko kesulitan membuktikan nilai bisnisnya. 

Internal Capabilities

Tidak semua organisasi memiliki kapabilitas yang sama untuk membangun dan mengoperasikan AI agent. Perusahaan juga harus mempertimbangkan kapabilitas internal yang meliputi AI engineers, data engineers, software developers, AI security expertise, MLOps atau LLMOps capabilities, product ownership, hingga tim yang mampu melakukan monitoring dan maintenance. Dukungan tim internal sangat memengaruhi pilihan antara build, buy, atau partner dalam menggunakan AI agents. 

Budget dan Total Cost of Ownership

Biaya AI agent tidak berhenti pada pengembangan awal. Organisasi juga perlu memperhitungkan model dan API usage, infrastruktur, integrasi data, security, monitoring dan observability, maintenance, improvement dan retraining, hingga human oversight. Karena itu, keputusan implementasi perlu mempertimbangkan total cost of ownership, bukan hanya biaya awal. 

Timeline dan Time to Value

Beberapa use case membutuhkan implementasi cepat, sementara yang lain dapat dikembangkan secara bertahap. Jika organisasi membutuhkan solusi yang dapat segera digunakan, membeli solusi yang sudah tersedia atau bekerja sama dengan partner mungkin lebih relevan daripada membangun semuanya dari nol. 

World Economic Forum juga menekankan pentingnya mengevaluasi cost-benefit dan time to value sebelum mengimplementasikan AI agents. 

Data Readiness

AI agent membutuhkan akses ke data dan konteks untuk menghasilkan keputusan atau tindakan yang relevan. Untuk itu, organisasi perlu mengevaluasi aspek ketersediaan data, kualitas data yang memadai, lokasi data apakah tersebar di berbagai silo, keamanan saat agent mengakses data, hingga mekanisme terkait data governance. 

Data yang tidak siap dapat membuat AI agent menghasilkan insight yang tidak akurat atau gagal memahami konteks bisnis. 

Governance dan Risk Management

Semakin besar otonomi sebuah AI agent, semakin besar pula kebutuhan terhadap guardrails, monitoring, dan governance. Inilah yang membuat organisasi perlu menetapkan sejauh mana batas tindakan yang dapat dilakukan agent, approval mechanism, access control, audit trail, performance monitoring, incident response, hingga human escalation Strategi AI agent yang baik bukan hanya menentukan apa yang dapat dilakukan agent, tetapi juga apa yang tidak boleh dilakukan agent. 

 

Baca Juga: Banyak Bisnis Masih Keliru, Cek 6 Perbedaan Agentic AI vs AI Agents 

 

Perbedaan Utama Build vs Buy vs Partner

Pada dasarnya, organisasi memiliki tiga pendekatan utama dalam mengimplementasikan AI agent: Build, Buy, atau Partner. Ketiga pendekatan ini memiliki trade-off yang berbeda dalam hal kontrol, kecepatan, biaya, kapabilitas, dan fleksibilitas. 

Kerangka pemikiran ini juga berlaku pada keputusan inovasi digital secara umum yakni membangun sendiri dapat memberikan kontrol dan diferensiasi lebih besar, membeli dapat mempercepat adopsi, sementara partnership dapat membantu organisasi memperoleh keahlian eksternal tanpa harus membangun seluruh kapabilitas sendiri dari nol. 

Build

Dalam pendekatan build, tim internal di suatu organisasi merancang dan mengembangkan AI agent sehingga membuat tingkat ownership tinggi terhadap solusi. Pendekatan build paling relevan ketika AI agent menjadi bagian strategis dari competitive advantage perusahaan atau ketika kebutuhan bisnis sangat spesifik dan sulit dipenuhi oleh solusi siap pakai. 

Kelebihan: 

  • Kontrol lebih besar terhadap arsitektur 
  • Dapat disesuaikan dengan proses bisnis 
  • Potensi diferensiasi lebih tinggi 
  • Fleksibilitas dalam memilih model, tools, dan workflow 

Tantangan: 

  • Membutuhkan technical talent 
  • Development time lebih panjang 
  • Membutuhkan investasi untuk maintenance 
  • Risiko kompleksitas integrasi dan scaling lebih tinggi 

 

Buy

Pendekatan buy berarti menggunakan AI agent atau platform yang sudah tersedia dari vendor. Pendekatan ini ini cocok ketika kebutuhan organisasi relatif umum dan solusi yang tersedia telah memenuhi sebagian besar persyaratan. 

Kelebihan: 

  • Implementasi lebih cepat 
  • Time to value lebih singkat 
  • Maintenance produk ditangani vendor 
  • Risiko technical development dapat lebih rendah 

Tantangan: 

  • Customization dapat terbatas 
  • Adanya ketergantungan terhadap vendor 
  • Integrasi dengan sistem internal tetap perlu direncanakan 
  • Model pricing perlu dievaluasi seiring pertumbuhan penggunaan 

 

Partner 

Pendekatan partner berarti bekerja sama dengan pihak yang memiliki keahlian teknologi, AI, data, dan implementation. Partner dapat membantu organisasi melakukan assessment, memilih use case, merancang arsitektur, mengembangkan solusi, hingga melakukan deployment dan knowledge transfer. Pendekatan ini dapat menjadi jalan tengah antara kontrol dan kecepatan. 

Kelebihan: 

  • Akses terhadap expertise eksternal 
  • Mengurangi kebutuhan membangun seluruh kapabilitas dari awal 
  • Lebih fleksibel dibanding solusi yang sepenuhnya off-the-shelf 
  • Dapat mempercepat implementation 

Tantangan: 

  • Membutuhkan alignment yang kuat 
  • Governance dan ownership perlu ditentukan sejak awal 
  • Scope dan tujuan implementasi harus jelas 

 

 

Baca Juga: Memahami Kesenjangan Eksekusi AI dan Tantangan Implementasi AI di Era Bisnis Modern 

 

 

Mengapa Strategi AI Agent Penting?

AI agent penting karena tanpa strategi yang jelas, penerapannya dapat dengan mudah berubah menjadi eksperimen teknologi yang terpisah-pisah. Sebuah organisasi mungkin menerapkan AI agent untuk layanan pelanggan, asisten karyawan, dan otomatisasi IT tanpa menetapkan prioritas bersama, tata kelola, maupun kerangka yang konsisten untuk mengukur nilai bisnisnya. Pendekatan strategis membantu menjawab tiga pertanyaan penting. 

1. Masalah Apa yang Mau Diatasi?

AI agent harus menyelesaikan masalah yang nyata. Jangan memulai dari pertanyaan: “Bagaimana kita bisa menggunakan AI agent?” 

Mulailah dari: “Masalah bisnis apa yang saat ini membutuhkan pendekatan baru?” 

2. Bagaimana Mengukur Kesuksesan AI Agent

Keberhasilan AI agent harus dapat diukur. Contoh KPI dapat mencakup penurunan response time, pengurangan manual workload, peningkatan resolution rate, cost reduction, revenue contribution, customer satisfaction, dan employee productivity. Memulai dari kebutuhan pengguna sangat penting karena dapat menentukan goals dan metrics yang dapat mengukur dampak AI agent secara nyata. 

3. Bagaimana Scaling Secara Bertanggung Jawab?

Proof of concept yang berhasil belum tentu siap digunakan dalam skala enterprise. Scaling membutuhkan perhatian terhadap data, security, integration, governance, monitoring, cost management, dan workflow redesign. 

McKinsey menemukan bahwa meskipun penggunaan AI sudah meluas, sebagian besar organisasi masih belum berhasil melakukan scaling secara menyeluruh. Hal ini memperlihatkan pentingnya strategi yang tidak berhenti pada tahap pilot. 

 

Pahami Persyaratannya Sebelum Memilih AI Agent

Sebelum memilih platform, model, atau partner, organisasi perlu memahami persyaratan AI agent secara lebih detail. Menurut World Economic Forum, organisasi perlu mempertimbangkan apakah AI agent memang merupakan solusi yang tepat untuk proses yang ingin ditangani. Traditional automation masih cocok untuk tugas dengan aturan statis dan hasil yang harus konsisten, sedangkan AI agents lebih relevan untuk situasi yang kompleks, dinamis, dan membutuhkan pengambilan keputusan atau pembelajaran. 

Beberapa pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah: 

  • Apakah proses ini benar-benar membutuhkan agent? 
  • Seberapa besar otonomi yang diperlukan? 
  • Siapa pengguna utamanya? 
  • Apakah agent berinteraksi dengan customer atau internal user? 
  • Apakah agent bekerja di dunia digital atau fisik? 
  • Seberapa besar keterlibatan manusia yang dibutuhkan? 
  • Apa konsekuensi jika agent melakukan kesalahan? 

 

Berapa Besar Otonomi Yang Dibutuhkan AI Agent Anda?

Otonomi merupakan salah satu faktor penting dalam mengevaluasi AI agent. AI agent dengan tingkat otonomi rendah hanya dapat beroperasi dalam cakupan tindakan yang telah ditentukan dan terbatas. 

Misalnya menjawab pertanyaan berdasarkan knowledge base, membuat ringkasan, memberikan rekomendasi, menyiapkan draft, dan melakukan klasifikasi. Namun keputusan akhir tetap berada pada manusia. 

Sementara itu, high-agency AI agent dapat melakukan rangkaian tindakan yang lebih kompleks untuk mencapai tujuan tertentu. Misalnya merencanakan multi-step workflow, menggunakan tools atau aplikasi, mengambil data dari beberapa sistem, membuat keputusan berdasarkan kondisi tertentu, dan menjalankan action secara otomatis sesuai guardrails. 

Semakin tinggi otonomi, semakin penting kebutuhan terhadap data yang akurat, access control, observability, guardrails, human oversight, dan governance. World Economic Forum menekankan bahwa semakin besar otonomi agent, semakin penting data foundation dan governance untuk memastikan agent tetap selaras dengan tujuan dan batasan organisasi. 

Consumer AI Agents vs Enterprise AI Agents

Consumer AI agents biasanya dirancang untuk kebutuhan individual. Fokusnya dapat berupa kemudahan penggunaan, productivity, personal assistance, dan customer interaction. 

Sementara enterprise AI agents beroperasi dalam lingkungan yang jauh lebih kompleks. Mereka mungkin harus mengakses enterprise data, terintegrasi dengan CRM, ERP, ITSM, atau aplikasi internal, mengikuti access policy, memenuhi compliance requirement, menyediakan audit trail, mendukung governance, hingga beroperasi dalam skala yang lebih besar. 

Karena itu, AI agent yang bagus untuk penggunaan personal belum tentu tepat untuk kebutuhan enterprise. 

Virtual AI Agents vs Embodied AI Agents

Virtual AI agents bekerja di lingkungan digital. Contohnya customer service agent, IT support agent, sales research agent, finance assistant, dan knowledge management agent. 

Sementara embodied AI agents memiliki keterhubungan dengan lingkungan fisik. Misalnya autonomous robots, warehouse robots, manufacturing systems, hingga autonomous vehicles. 

Perbedaan ini penting karena embodied AI memiliki konsekuensi operasional dan keselamatan yang lebih besar. Semakin besar dampak tindakan agent terhadap dunia fisik, semakin tinggi kebutuhan terhadap safety controls dan human oversight. 

Human-in-the-Loop (HITL) vs Human-on-the-Loop (HOTL)

Dalam Human-in-the-Loop, manusia terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan atau approval. Agent mungkin dapat menganalisis dan memberikan rekomendasi, tetapi tindakan penting memerlukan persetujuan manusia. 

Model ini cocok untuk high-risk decisions, financial approvals, sensitive data, hingga compliance-sensitive actions. 

Dalam Human-on-the-Loop, agent memiliki tingkat otonomi lebih tinggi. Manusia tidak perlu menyetujui setiap tindakan, tetapi tetap melakukan monitoring dan dapat melakukan intervensi jika diperlukan. 

Model ini cocok untuk workflow yang lebih matang, memiliki risiko yang dapat dikendalikan, dan telah memiliki guardrails yang kuat. WEF menilai bahwa peran manusia akan terus berkembang dari operator langsung menjadi orchestrator yang melakukan intervensi ketika judgment, kreativitas, risiko, atau kondisi tidak biasa membutuhkan keterlibatan manusia. 

 

Pilih Model AI Agent yang Paling Sesuai dengan Bisnis Anda

Tidak semua AI agent bekerja dengan cara yang sama. Model agent perlu disesuaikan dengan kompleksitas masalah, kebutuhan adaptasi, dan tingkat otonomi. 

Reactive AI Agents

Reactive AI agents merespons input atau kondisi berdasarkan aturan, prompt, atau konteks yang tersedia. Mereka tidak selalu membutuhkan perencanaan jangka panjang. Contohnya FAQ agent, customer support assistant, ticket classification, hingga basic recommendation agent. 

Model ini cocok untuk use case dengan ruang lingkup yang jelas dan tindakan yang relatif terbatas. 

Goal-Based AI Agents

Goal-based AI agents bekerja untuk mencapai tujuan tertentu. Agent dapat membagi sebuah tujuan menjadi beberapa langkah dan memilih tindakan berdasarkan hasil yang ingin dicapai. 

Sebagai contoh, research agent yang mengumpulkan informasi dari beberapa sumber, procurement agent yang membantu mengevaluasi opsi, atau IT agent yang membantu melakukan troubleshooting berdasarkan workflow. Model ini cocok untuk tugas multi-step yang membutuhkan reasoning dan tool use. 

Learning AI Agents

Learning AI agents dapat meningkatkan performa berdasarkan feedback, evaluasi, atau data baru. Namun, organisasi tetap perlu mengontrol bagaimana proses pembelajaran dan perubahan perilaku dilakukan. 

Learning tidak boleh berarti agent dapat mengubah tujuannya sendiri tanpa governance. Organisasi perlu menentukan data apa yang digunakan, bagaimana performance dievaluasi, siapa yang menyetujui perubahan, dan bagaimana model drift dipantau. 

Multi-Agent Systems

Dalam multi-agent system, beberapa AI agents bekerja sama dengan peran yang berbeda. Contohnya planning agent membuat rencana, research agent mencari informasi, analysis agent mengevaluasi data, execution agent menjalankan tindakan, dan monitoring agent memeriksa hasil. 

Pendekatan ini dapat membantu menangani workflow yang kompleks, tetapi juga meningkatkan kompleksitas orchestration, security, observability, dan governance. Karena itu, multi-agent system sebaiknya digunakan ketika kompleksitas bisnis memang membutuhkan pembagian peran tersebut. Lebih banyak agent tidak selalu berarti hasil yang lebih baik. 

 

Build, Buy, atau Partner, Mana Strategi AI Agent yang Paling Sesuai dengan Organisasi Anda?

Tidak ada satu jawaban yang tepat untuk semua organisasi. Pilihan strategi dapat disederhanakan sebagai berikut: 

Pertimbangan saat Pilih Build Ketika

  • AI agent menjadi strategic differentiator 
  • Requirement sangat spesifik 
  • Organisasi membutuhkan kontrol tinggi 
  • Technical capability tersedia 
  • Perusahaan siap melakukan investasi jangka panjang 

Pilih Buy Saat

  • Use case relatif umum 
  • Speed menjadi prioritas 
  • Solusi yang tersedia sudah memenuhi kebutuhan 
  • Organisasi ingin mengurangi development effort 
  • Time to value perlu lebih cepat 

Partner Lalu Pertimbangkan

  • Organisasi membutuhkan expertise 
  • Use case memerlukan customization dan integration 
  • Internal team belum memiliki semua capability 
  • Perusahaan ingin mempercepat implementation 
  • Knowledge transfer menjadi bagian dari strategi jangka panjang 

Dalam praktiknya, organisasi tidak harus memilih satu pendekatan secara permanen. Perusahaan dapat memulai dengan partner untuk membangun proof of value, menggunakan platform vendor untuk fondasi teknologi, kemudian secara bertahap mengembangkan kapabilitas tim internal. 

Strategi terbaik sering kali bukan sekadar build vs buy vs partner, tetapi kombinasi yang paling sesuai dengan maturity dan kebutuhan bisnis organisasi. 

 

Kesalahan Umum yang Dilakukan Organisasi Saat Mengopsi AI Agents

Ada beberapa kesalahan yang umum dilakukan oleh organisasi ketika mengadopsi AI agents. 

1. Fokus dengan Teknologi Baru Bukan Masalah Yang Dialami Bisnis

Kesalahan paling umum adalah memilih platform AI terlebih dahulu, kemudian mencari masalah yang dapat diselesaikan. Pendekatan yang lebih baik adalah memulai dari pain point dan business outcome. 

2. Memberikan Terlalu Banyak Otonomi Sedini Mungkin

Tidak semua workflow siap untuk full autonomy. Mulailah dengan low-risk use case, evaluasi performa, kemudian tingkatkan autonomy secara bertahap. 

3. Mengabaikan Kesiapan Data

AI agent tidak dapat menghasilkan keputusan yang baik jika data yang digunakan tidak akurat, tidak lengkap, atau tidak memiliki konteks. 

4. Menganggap Tahap Awal sebgaai Strategi Menyeluruh

Proof of concept dapat membuktikan feasibility, tetapi belum tentu membuktikan scalability. Organisasi harus merencanakan security, governance, integration, monitoring, dan operating model sejak awal. 

5. Hanya Fokus Pada Kualitas AI Model

Model terbaik belum tentu menghasilkan solusi terbaik.  Padahal workflow, data access, integration, UX, observability, dan human oversight sama pentingnya. 

6. Mengabaikan Governance

Deloitte menunjukkan bahwa governance masih menjadi area yang tertinggal dibandingkan percepatan adopsi AI agents. Organisasi perlu membangun guardrails sebelum agent diberikan akses dan otonomi yang lebih besar. 

7. Mengukur Aktivitas Bukan Nilai Bisnis

Jumlah AI agents yang berhasil dibuat bukanlah ukuran keberhasilan. Yang perlu diukur adalah dampaknya terhadap produktivitas, biaya, revenue, pengalaman pelanggan, pengalaman karyawan dan penurunan risiko. 

 

Baca Juga: Proyek AI Berhenti di Tahap Pilot? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya 

 

Temukan Pendekatan Implementasi AI Agents Paling Tepat Bersama CTI Group

Memilih AI agent bukan hanya soal memilih model atau platform yang paling populer. Organisasi perlu memahami masalah bisnis, tingkat otonomi yang dibutuhkan, kesiapan data, kapabilitas internal, governance, budget, serta target time to value sebelum menentukan apakah pendekatan terbaik adalah Build, Buy, atau Partner. 

AI agent yang tepat adalah agent yang sesuai dengan kebutuhan bisnis dan mampu menghasilkan nilai yang dapat diukur, bukan sekadar menggunakan teknologi paling canggih. Temukan pendekatan implementasi AI agent pang tepat sesuai kebuutuhan organisasi Anda bersama Computrade Technology International. 

Siap menentukan strategi AI agent yang tepat? Hubungi CTI Group untuk mendiskusikan pendekatan Build, Buy, atau Partner yang sesuai dengan kebutuhan transformasi AI organisasi Anda. 

Penulis: Ervina Anggraini – Content Writer CTI Group

Share On :

Thanks for filling out our form!

Please fill out the form below to be able to download our latest Digital Solution Guide

Terima kasih telah berlangganan newsletter kami

Anda akan menerima informasi terbaru dari perusahaan kami