Dampak Krisis Ekonomi Global dan Supply Chain Industri IT

Dampak Krisis Ekonomi Buat Supply Chain Industri IT Tersendat

Author:

Pada Kamis, 13 Oktober 2022 Computrade Technology International (CTI Group) menyelengarakan Golden Circle Club 2022. Dalam acara tersebut, GCC mengundang Fajar B. Hirawan sebagai Head of Economy Departement CSIS, Setijadi selaku Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), dan Andries K. Indrajaya selaku Vice President of ICT JNE yang mengangkat tema “Getting Ahead of Global Disruption Mitigating Business Turbulence of Operation Systems“. 

Dalam acara dan diskusi GCC 2022, para pelaku ekonomi saling berbagi wawasan dan pengalaman dalam menghadapi dampak krisis ekonomi global pada 2023 yang membuat terganggunya supply chain secara global. Terutama di bidang industri IT, di mana sebagai salah satu industri yang sangat bergantung terhadap kebijakan ekspor dan impor. 

Maka dari itu, bagi Anda yang terlibat langsung di industri IT, penting untuk mengantisipasi dan memahami bagaimana krisis ekonomi dapat berdampak terhadap supply chain industri IT. Lengkapnya, simak artikel berikut. 

Krisis Ekonomi Sebabkan Supply Chain Industri IT Tersendat

 

Lockdown di awal pandemi mengakibatkan kesulitan dalam impor bahan baku modal industri dan keterbatasan dalam masalah arus barang. 

Fajar mengatakan dunia ini merupakan interconnected world. Ketika terjadi disrupsi politik atau keamanan, maka dampaknya bisa ke negara-negara lain secara global. Hal ini bisa berefek pada ekonomi negara yang melambat dan menjadi protektif terhadap produk dalam negeri. 

Penurunan supply chain lebih dari 60 persen didasarkan oleh Indonesia yang memang merupakan negara bergantung pada impor dan ekspor yang turun hanya sekitar 20 persen. Sistem pembayaran antara penjual dan pembeli juga berkembang menghadapi krisis global yang terjadi, hal ini membuat peningkatan terhadap platform pembayaran yang bersifat cashless. 

Saran Inovasi Pelaku Industri IT untuk Beradaptasi dengan Global Supply Chain 

 

Indonesia dalam hal logistik dan global supply chain masih terkendala dengan berbagai hal, seperti regulasi, infrastruktur, SDM, dan transparansi birokrasi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kebijakan sektor industri IT yang berperan besar dalam inovasi untuk mengelola produktivitas negara Indonesia melalui sektor logistik secara laut maupun darat. 

Fajar mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara dengan manufaktur gudang dan armada laut yang sangat banyak, memiliki potensi inovasi IT agar dapat lebih berkembang. Pasalnya, untuk mengelola berbagai sumber daya yang diperlukan IT, penting untuk meningkatkan dan mempercepat akurasi proses picking rate dari supply chain.  

Masalah skala ekonomi yang terkait dengan komoditas barang menjadi sebuah perkembangan, di mana untuk melakukan sebuah pengiriman tidak hanya sekadar membutuhkan armada dan gudang. Namun, perusahaan logistik juga membutuhkan konsolidasi dengan kemampuan IT untuk mengakses dan menyaring data-data yang dimiliki. 

Maka dari itu, teknologi IT sangat dibutuhkan untuk melakukan “mapping supply and demand” terutama jika Anda sangat lemah dalam bagian proses big data, dan data tidak bisa dikumpulkan atau dikelola jika tidak menggunakan IT. 

3 Implementasi IT JNE Dalam Mencari Peluang Bisnis Logistik

 

Andries K. Indrajaya sebagai pelaku salah satu industri logistik terbesar di Indonesia mengungkapkan perusahaan JNE masih sedang dalam proses beradaptasi dan mencari solusi dari disrupsi ini, hal tersebut didasarkan karena JNE sebagai satu-satunya industri logistik yang bergerak sebagai network company. 

Teknologi pertama yang JNE gunakan sebagai network company dapat bermitra dengan siapa pun untuk menjadi lebih besar. Dengan network company yang sudah memiliki mitra lebih dari 8.000 hampir 9.000 cabang tersebar di seluruh Indonesia, dibutuhkan sistem yang terpecaya dan dapat dikendalikan untuk menjaga standar, agar komunitas mitra ini dapat membangun ekosistem yang bisa bertahan menghadapi krisis ekonomi global. 

Kedua, berdasarkan data JNE, masih banyak yang menangani Cash on Delivery (COD), di mana pengusaha mikroekonomi masih lebih sering menggunakan uang tunai dibandingkan dengan digital. Hal ini membuat potensi pasar yang tinggi dalam membantu pelaku UMKM mengambil uang setoran ke mesin ATM dan dimasukkan ke rekening owner. Untuk bisa mengadaptasi potensi ini, dibutuhkan dukungan teknologi dan mesin yang terkoneksi dengan berbagai banking. 

Implementasi teknologi ketiga adalah JNE membutuhkan platform digital yang dapat menghitung ongkos kirim dengan berbagai layanan jasa yang berbeda dan dapat dihitung jam pengiriman hingga sampai ke tangan pembeli. Hal ini untuk memastikan SLA yang ditentukan berhasil, sehingga perlu dukungan teknologi yaitu selain penggunaan data center, hybrid cloud untuk pengaksesan data yang lebih cepat, dan juga sistem automation sorting. 

Baca Juga: Ancaman Krisis Global dan Supply Chain Jadi Tantangan Industri IT di 2023 

Kesimpulan Diskusi Golden Circle Club (GCC) 2022

 

Dalam acara tahunan Golden Circle Club yang diadakan oleh Computrade Technology International (CTI Group), disimpulkan bahwa dampak krisis ekonomi yang berpengaruh dapat menimbulkan resesi ekonomi secara global, meskipun ekonomi Indonesia dipercaya masih bisa bertahan di 2023, kemungkinan melambat belum tentu menjadi resesi, dan untuk perkembangan supply chain masih kuat dengan adanya pertumbuhan di Q1 sampai Q2 2022. 

Untuk pelaku industri IT tidak perlu khawatir dalam menghadapi dan menghindari mitigasi dari resesi global ekonomi, dikarenakan IT akan sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan dan perkembangan dari krisis ekonomi. Yang terpenting adalah sektor IT terus dapat berinovasi dan bisa melatih serta mencari sumber daya manusia yang lebih baik lagi. 

Penulis: William Wong  

Content Writer CTI Group 

Share On :

Berita Terbaru

Terima kasih telah berlangganan newsletter kami

Anda akan menerima informasi terbaru dari perusahaan kami