Ancaman Krisis Global dan Supply Chain Industri IT

Ancaman Krisis Global dan Supply Chain Jadi Tantangan Industri IT di 2023

Author:

Golden Circle Club 2022 telah diselenggarakan Computrade Technology International (CTI Group) pada Kamis, 13 Oktober 2022. Dalam kesempatan tersebut, Ekonom sekaligus Head of Economy Depertement CSIS, Fajar B Hirawan, memaparkan materi dengan judul “Menjaga Momentum Pemulihan Ekonomi di Tengah Ancaman Krisis Global”.  

Fajar dalam pemaparannya, memperlihatkan laporan World Economic Outlook (WEO) dari International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya mencapai 2,7 persen pada 2023. Sementara untuk tahun ini, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya ada di angka 3,2 persen.  

Tentunya hal ini akan menimbukan ancaman resesi ekonomi dunia, serta adanya indikator ketidakstabilan makroekonomi Indonesia dan inflasi. Masalah ini juga perlu diwaspadai industri IT dalam menghadapi tekanan dan ancaman yang mungkin bisa terjadi di 2023. 

Tantangan Industri IT di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi

Kondisi perekonomian global semakin tidak menentu karena sejumlah isu mulai dari perang dagang antara AS dan Tiongkok, munculnya krisis politik seperti perang Rusia-Ukraina hingga ketegangan antara Tiongkok dan Taiwan. Faktor-faktor itu lah yang membuat aktivitas perekonomian dan perdagangan secara global terganggu. 

Fajar memaparkan ada tiga skenario economy outlook Indonesia yang disampaikan, yaitu bearish (kemungkinan terburuk), mediocre (kemungkinan menengah), dan bullish (kemungkinan terbaik). Untuk menghadapi skenario ini, perlu melihat perbandingan dari sisi global dan domestik, seperti koreksi pertumbuhan PDB dan kenaikan inflansi di lima negara besar, yaitu AS, China, Jepang, India, dan EU.  

Untuk menjawab tantangan ini, perlu adanya optimalisasi pada operasional supply chain agar dapat menjaga alur proses logistik, mapping supply and demand industri IT ke sumber pasokan, misalnya semiconductor tidak terganggu. 

Ancaman Perekonomian Global Turut Mendorong Krisis Supply Chain Semiconductor

Kondisi perekonomian global semakin tidak menentu karena sejumlah isu, memunculkan masalah baru, yaitu supply chain yang terganggu. Hal ini disebabkan karena Tiongkok sebagai produsen perangkat IT terbesar di dunia mengalami perlambatan ekonomi dan adanya pembatasan penjualan semiconductor dari Amerika Serikat ke Tiongkok. 

Demi mendapatkan hasil yang positif (bullish), Fajar menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat dari tersedianya komoditas berkat ketersediaan supply chain yang baik. Salah satunya dengan pemanfaatan teknologi agar sektor logistik dapat berjalan efisien. 

Fajar mengungkapkan IT menjadi satu hal yang bisa meningkatkan produktivitas dari segi logistik. Tidak mungkin perusahaan logistik bisa mengelola armada sekian banyak kalau kita tidak menggunakan IT. 

“Teknologi bisa mempercepat dan meningkatkan akurasi proses yang ada di logistik dan supply chain,” katanya. 

Selain itu, melakukan mapping supply and demand merupakan alur proses awal untuk dilakukan dan dalam menjalankan proses tersebut perlu adanya bantuan IT. “Saat ini kita sangat lemah di data. Data tersebut tidak bisa kita kumpulkan dan kelola tanpa IT, sekarang sudah memasuki era big data dan itu bisa didukung oleh pelaku bisnis IT,” katanya. 

Lebih spesifik, pentingnya IT sebagai katalis para pelaku bisnis, membuat peran penyedia solusi infrastruktur IT seperti CTI Group semakin diperlukan mengingat kondisi perekonomian global ke depan yang penuh ketidakpastian. 

5 Tips Agar Industri IT Terhindar dari Krisis Ekonomi

tips industri it terhindari dari krisis ekonomi global

Fajar menambahkan bahwa ada lima kunci agar industri IT Indonesia bisa survive di tengah ancama resesi di masa mendatang.  

Pertama, perlunya regulator dalam hal ini pemerintah memahami bahwa benar sektor IT bisa membantu dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Kedua, perlu adanya komunikasi dan transparansi bahwa sektor IT akan terhambat jika ada kebijakan populis dan menutup impor. Dengan dua hal itu, sebagai kunci ketiga, maka akan muncul trust atau kepercayaan dari pelaku sektor ini dan pemangku kepentingan lainnya. 

Lalu dua hal terakhir adalah talenta dan teknologi, karena pelaku sektor IT memiliki dua poin penting yang bisa mendukung dan menjadi salah satu sumber ekonomi baru seperti harapan kita Indonesia menjadi negara maju 2045. 

Fajar juga berharap bahwa industri IT bisa memanfaatkan keunggulan teknologi yang mereka miliki untuk berpartisipasi dalam pembangunan bersama proyek infrastruktur digital nasional. 

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa masa depan industri IT nasional membutuhkan dukungan yang kuat dari regulator untuk bisa berkembang dengan baik di masa depan, kemudian ketersediaan tenaga ahli (talent) yang memadai, serta pengembangan teknologi itu sendiri. 

Baca Juga: Edge Computing dan Distributed Enterprise Gali Potensi Besar untuk Berbagai Industri 

Sekilas Tentang Golden Circle Club (GCC) 2022

golden circle club (GCC) 2022

PT Computrade Technology International (CTI Group) sebagai penyedia solusi infrastruktur IT, memilih tema “Getting Ahead of Global Disruption: Mitigating Business Turbulence for Operations Tomorrow” untuk acara tahunannya, yaitu Golden Circle Club (GCC). Penyelenggaraan GCC bertujuan untuk berbagi informasi dan bertukar pengalaman yang didesain untuk para pelaku industri IT dalam hal ini para eksekutif yang berasal dari perusahaan yang menjadi mitra bisnis CTI Group, mulai Independent Software Developer (ISV), hingga system integrator. 

Tiga pembicara kompeten di bidangnya diundang hadir untuk mendiskusikan tema ini, antara lain seperti Fajar B. Hirawan sebagai Head of Economy Department CSIS (Centre for Strategic and International Studies), Setijadi selaku Chairman Supply Chain Indonesia, dan juga Andries K. Indrajaya sebagai Vice President of ICT JNE.   

Selain itu, Rachmat Gunawan selaku Presiden Direktur CTI Group, juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung dan mendorong inovasi melalui penyediaan teknologi informasi seperti AI, hybrid cloud, big data, automation, dan lainnya melalui kerja sama strategis. 

Penulis: Ary Adianto 

Content Writer CTI Group 

Share On :

Berita Terbaru

Terima kasih telah berlangganan newsletter kami

Anda akan menerima informasi terbaru dari perusahaan kami